Skripsi adalah
salah satu tugas akhir mahasiswa maupun mahasiswi tingkat akhir untuk mengejar
gelar sarjana/S1. Makhluk astral yang bernama skripsi ini seringkali membuat
para mahasiswa maupun mahasiswi yang belum siap menghadapinya di buat berbagai
macam rasa, Mulai dari rasa moka, rasa coklat, rasa strowbery, dan lain lain “pokoknya
beli skripsi satu gratis 3,ayooo buruan nikmati skripsi dengan berbagai rasa,
dijamin anda pasti ketagihan (dasar idiot)”.
Di dalam skripsi
terdapat beberapa pemeran, salah satu tokoh yang paling berperan dalam dunia
skripsi adalah DOSEN PEMBIMBING. Sosoknya yang tegas, berdedikasi tinggi, serta
mempunyai visi misi yang jelas dalam mendidik anak didiknya untuk mencapai
kelulusan membuat dosen pembimbing di elu-elukan oleh para mahasiswa tingkat
akhir “(sambil lari slow motion, tangan kiri megang es teh manis seharga 2000,
tangan kanan lembar prin skripsi ,)..ooh dosen
pembimbiiing, doseeen pembimbing,, dosen pembimbing, bimbinglah aku dalam cinta
dan kasih sayangmuuu.”. Bak seorang
kharismatik dosen pembimbing pun mnyambutnya dengan “hellllloooo,,,biasssa aja
kelllleeees, gak usah cemungud getooo kaleeeee (ya ampun tidak terbayang kalo kata kata itu dikeluarkan oleh sang
dekan, apa yang terjadi sama burung-burung disana, apa yang terjadi pada bunga
yang sedang bermekaran, apa yang terjadi pada tukang batagor sd, tukang cimol
sd, tukang jimbot aki di sd ‘dasar idiot apa hubunagnnya’) ”. Jadwal yang
padat serta, jam terbang yang sudah cukup tinggi terkadang membuat para anak didik
kesemsem ingin meenemuinya, hal tersebut membuat para dosen pembimbing
mendapatkan penghargaan global skripsi aword “cieeeeee”.
Nomong-ngomong
soal skripsi gua jadi inget sama kisahnya si Tunjang. Tunjang ini salah satu
mahasiswa tingkat akhir yang memiliki dedikasi tinggi untuk mendapatkan gelar
sarjana. Namun karna sifatnya yang sedikit malas dan ada salah satu tujuan yang
ingin dicapainya membuat Tunjang telat dalam kelulusan dibandingakan
teman-temannya.
“Jang gimana
skripsi lu,(tanya temannya sambil makan somay depan kampus yang udah
diplastikin)”.
“ya gitu-gitu
aja (jawab tunjang sambil ngemilin keramik)”.
“ayooo dong
cepet, gua anak anak udh pada lulus, jangan di tunda-tunda (kemudian agresif
mengunyah somai, seperti ibu ibu yang lagi rujakan tai babal ama garem)”.
“yaaah abis
gimana masih males gua (sambil garuk kepala yang kemudian mengeeluarkan
berbagai makhluk reptil dari kepalanya)”.
“ayu dah gua
bantuin, mumpung masih ada anak-anak (sambil ngelap keringet di jidatnya yang mengandung antibiotik untuk
penyembuhan penyakit bisul, )” .
“iya gampang itu
mah (Tunjang mulai pusing)”.
“pokoknya kalo
susah ngomong aja ntr gua bantuin deeeh (kepedesan, mulai melirik leher tunjang
untuk dihisap darahnya)”.
“iya dah
makasih, ntr gua kabarin (Mulai bete)”.
“yudh, gua
tunggu (dengan agresif somai beserta plastiknya pun dihabisinya tidak tersisa,
dan meninggalkan bumbu kacang di seluruh bagian muka)”.
“ya (cieeee ngambek)”.
Tak lama Tunjang
dan temannya pun meninggalkan tempat kejadian perkara. Tempat dimana telah
terjadi pembantaian secara tragis yang dilakukan kerabat tunjang terhadap
sebungkus somai beserta plastiknya yang tidak memiliki salah apa-apa.
Beberapa setelah
mendapatkan nasehat dari temannya tunjang pun berfikir bahwa apa yang dikatakan
temannya memang benar, sayang rasanya jika makhluk amphibi sejenis skripsi
dilewatkan hanya dengan bermalas malasan. Sejak itulah tunjangpun rajin dalam
mengerjakan skripsi. Namun, selain pelajaran yang didapat dari nasehat tadi,
tunjang pun merasakan sedih, kesal, serta galau “mengapa aku memiliki teman yang begitu kejam, teman yang tidak memiliki
pri kesomayan dalam memakan somai,,,benar,,benar biadab,,somay beserta
plastiknya yang begitu imuuuut,,,lucuuuuu,,di habisinya denngan tragis”. Sejak
kejadian itulah Tunjang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dalam memakan
somai........