Ujian akhir semester dan ujian tengah semester
nampaknya adalah momok yang menakutkan bagi mahasiswa maupun mahasiswi yang
tidak belajar . Seperti hari-hari biasanya si jantuk salah satu mahasiswa berbadan atletis ala
rikishi smack down dengan gaya yang petakilan , dengan tampang “ya ampuuuun ,pas pasan dah pokonya” mengawali awal harinya dengan berkomunikasi bersama sahabatnya yaitu cermin
yang bersandar dengan tembok. Seperti biasanya, sahabatnya sang cermin dengan penilaian
yang jujur, masih memberikan penilaian yang membuat depresi tingkat dewa kepada
si jantuk “ya elaaah,,miiiin min, masih
aja lu, kasih gua penampakan yang keren ala bret pit keeee sekali-kali”,
kala itu jantuk kesal, jantuk sedih, jantuk miris, dan mencoba mengurangi rasa sedihnya itu dengan
memakan permen ki*s yang ada tulisannya, dan jantuk menemukan tulisan “gagal
ganteng ”, petir, kilat, meteor seraya menyambut kesedihan jantuk kala itu layaknya besanan yang ketika hadir disambut
oleh petasan renteng yang berbunyi huft,
huft, huft “ kaya bunyi alay lagi galau”,
dan jantuk pun menghadap lagi ke cermin, marah dan berkata “WAHAI CERMIIIIN....!! mengapa kau selalu
memunculkan sosok grandong, ketika saya berkaca,,,,mengapa wahai cermiiin,,
mengapa (baca : Grandong)”. Setelah terhanyut
dengan kemirisannya hampir lupa bahwa hari ini adalah ujian akhir semester,
jantuk pun lekas beranjak kekampus. kala itu, jadwal ujian adalah mata kuliah
statistik, mata kuliah yang menitik beratkan pada soal hitung-hitungan yang
juga salah satu mata kuliah yang paing disegani ketika ujian. Sadar dengan
ketelatannya jantuk pun cemas. Karena, entah kenapa di setiap ujian yang mata
kuliahnya paling disegani saf/barisan dibelakang dari meja pengawas selalu
penuh diisi oleh mahasiswa maupun mahasiswi berparas ngarep “ngarep dapet sela lirik kanan kiri”. Hal
tersebut membuat jantuk pasrah dengan atmosfer ujian yang mencekamkan dan
membuatnya duduk di depan tepat berhadapan dengan seorang pengawas yang seakan
akan mengaum,
mencakar, menggigit, mengkepang, mengkutek, me mani pedi, para peserta
ujian yang tidak menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dalam ujian. para
peserta ujian ngarep pun cemas dengan
pengawas yang tidak memiliki nilai-nilai toleransi dalam percontekkan “ah, apa-apaan ini dua kekuatan yang berbeda
seraya bertarung hebat dan menyelimuti atmosfer kelas kala itu”. Lembar ujian
pun dibagikan, 5 menit pertama para mahasiswa terlihat lancar mengisi lembar
jawaban yang telah dibagikan karena, pertanyaan yang diisi adalah pertanyaan
yang paling disenangi oleh para peserta ujian yaitu, pertanyaan mengenai
identitas diri seperti, nama, nim, fakultas, hari/tanggal ujian dan
ruang “yaiyalah pada bisa dan anteng ngisi,orang Cuma identitas!!” belum pada soal sesungguhnya ruang kelas pun
sudah di gaduhkan oleh pertanyaan “eh ini
ruang berapa sih, ini gedung apa dah (pengawas melirik-lirik seakan ingin
menjawab, tapi malu-malu),wahai peserta ini adalah ruang zumanji yang didalamnya terdapat hantu jadi jadian yang siap
menakuti kalian,, aaaaargh (sambil mengaum) suasana mencekam dan menakutkan
kala itu ”. Terlihat wajah pasrah si
jaantuk dan beberapa peserta ketika membaca satu persatu soal kejam yang terdapat dilembar jawaban
yang seakan-akan tulisan di soal itu adalah tulisan terkejam yang pernah dibaca
“ya ampuuun,,ini kejam bangeeet,,kenapa
tidak ada kata kata cemungud eaa
nyaaaaa dilembar soal ini ” . 45
menit ujian statistik berjalan, terlihat tampang-tampang peserta yang mulai murung,
cemas, gelisah layaknya haci yang sedang mencari ibunya di lawsen juga saven
eleven “pantes si haci gk pernah ketemu
emanya,salah tempat nyarinya” begitupun dengan sijantuk , saling
lirik-lirikan antara peserta terjadi seakan menimbulkan chemistry satu dengan
yang lainnya ”cieeeee”, pada menit
itu jantuk hanya pura pura berpikir agar terlihat manis di depan pengawas dan
juga berpura pura menulis begitu juga dengan beberapa peserta lain,bukan
jawaban yang ditulis atau coret-coreetan. namun, “nomer 1-3 woy gua beloman nih/brikan aku hidayah ” . Satu jam ujian
berjalan terlihat seorang wanita sebut saja namanya Mpo minah mengumpulan
lembar ujiannya di depan, mpo minah adalah seorang mahasiswi yang cukup
berperan disetiap ujian bagi teman-temannya dalam membuat panik dan ngiiri atas
kecepatannya dalam mengisi soal “berkuranglah
salah satu peserta yang diharapkan dapat
membeikan ketenangan di tengah-tengah kegelisahan”. Beberapa peserta pun
mulai keluar satu persatu dengan wajah pasrah yang diwarnai senyuman manis dan
mempesona ala peserta Take Me OUT ketika keluar dari podiumnya. Jantuk pun
pasrah dengan wajah pesimis melihat lembar jawabannya yang masih kosong, mulus,
suci bersih tak bernoda dan seakan-akan lembar jawaban itu seperti berkata “nodai aku jantuk,,nodai aku dengan cairan
penamu,,aku ikhlas aku rela” dengan pengetahuan ala kadarnya dan merasa
tidak tega dengan lembar jawabannya jantuk pun mengabulkan permohonan lembar
jawaban tersebut, 2 dari 5 soal yang di sajikan pun di tuntastkan oleh jantuk “ooh lega rasanyaa”. Seperti biasanya,
kegaduhan yang kompleks didepan kelas
setelah ujian adalah “eeh tadi lu nomer
berapa aja yang diisii..ih tadi pengawasnya killer banget yaaa...iya gua nomer
itu lupa tuh,,nomer itu caraya gimana sii,,kayanya gue salaah deeeh (tadi
didalem kenapa engga pada diskusi,,siiiii)
”. ujian pun selesai dan jantuk
bersama teman-temannya pun meninggalkan ruang angker yang dihuni oleh satu
makhluk absurd yang menyebalkan bagi peserta ujian.
hoaaam
BalasHapus